Selasa, 24 November 2009

SOCRATES

BAB I

PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG

Socrates dilahirkan di Athena pada tahun 470 S.M. Socrates dikenal sebagai orang yang berbudi luhur mempunyai kearifan dan kebijaksanaan.

Namun ia tidak pernah mengaku mempunyai kearifan dan kebijaksanaan, ia hanya mengaku sebagai penggemar kearifan atau amateur kebijaksanaan, bukan professional dan mengambil untuk kebendaan dari apa yang ia gemari seperti kaum sofis pada zamannya.

Masa Socrates bertepatan dengan masa kaum sofis. Karena itu pokok pembahasan filsafat Socrates hampir sama dengan pokok pembahasan kaum sofis. Sebab itu ada orang yang memasukkan Socrates kedalam golongan kaum sofis. Tetapi ini tidak betul, karena ada perbedaan yang nyata antara pendapat Socrates dan pendapat kaum sofis itu.

Socrates percaya kepada tuhan yang telah menciptakan alam dan menentang terhadap keberadaan dewa-dewa pada masa itu. Sehingga dengan pemikiran dan keyakinannya itu, ia diadili dan mati dengan meminum racun. Banyak orang yang mengaguminya, bahkan Plato mengabadikan pidatonya karena Socrates mempunyai keluhuran budi pekerti, walaupun dalam fisiknya berbeda dengan masyarakat Yunani pada umumnya.

B.     RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Socrates, yaitu :

a.       Siapakah Socrates?

b.      Bagaimana jalan pemikiran Socrates?

C.     TUJUAN

Adapun tujuan disusun makalah ini, antara lain :

a.       Mengetahui sejarah riwayat hidup Socrates

b.      Mengetahui kerangka pemikiran Socrates

c.       Dapat mengambil pelajaran dari pemikiran Socrates dan mengaplikasikannya dalam kehidupan


BAB II

PEMBAHASAN

A.     RIWAYAT HIDUP SOCRATES

Socrates dilahirkan di Athena ( 470 S.M – 399 S.M ). Dia bukan keturunan bangsawan atau orang berkedudukan tinggi. Melainkan anak dari seorang pemahat bernama Sophroniscus dan ibunya seorang bidan bernama Phaenarete. Setelah ayahnya meninggal dunia, Socrates manggantikannya sebagai pemahat. Tetapi akhirnya ia berhenti dari pekerjaan itu dan bekerja dalam lapangan filsafat dengan dibelanjai oleh seorang penduduk Athena yang kaya.

Di masa mudanya Socrates mendapat pendidikan normal dibidang sains, musik dan gimnastik. Semua ini merupakan subjek pelajaran yang berlaku umum dalam priode Yunani klasik. Ia dikeal juga sebagai pematung dan katanya beberapa karyanya pernah ditampilkan disalah satu tempat di jalan menuju ke Acropolis di Athena.

Tak lama semua itu ditinggalkan ketika ia mulai menerima serangkaian mimpi, wahyu dan tanda-tanda yang menjurus kepada penugasannya sebagai utusan ilahi bagi perbaikan bangsa Athena. Ia mencoba menunjukan kepada masyarakat kesia-siaan keyakinan dan gaya hidup mereka dan mengajak mereka pada gaya hidup yang lebih intektual dan bermoral.  

Masa Socrates bertepatan dengan masa kaum sofis. Karena itu pokok pembahasan filsafat Socrates hampir sama dengan pokok pembahasan kaum sofis. Sebab itu ada orang yang memasukkan Socrates kedalam golongan kaum sofis. Tetapi ini tidak betul, karena ada perbedaan yang nyata antara pendapat Socrates dan pendapat kaum sofis itu.

Tetapi dengan sekuat tenaga Socrates menentang ajaran para sofis. Ia membela yang benar dan yang baik sebagai nilai obyektif yang harus diterima dan dijunjung tinggi oleh semua orang. Dalam sejarah umat manusia, Socrates merupakan contoh istimewa dan selaku filosof yang jujur juga berani. Karena populernya, Socrates yang tak pernah bergambar, tergambar wajahnya dengan sejelas-jelasnya di muka tua dan muda berbagai keturunan. Dari gambarnya yang tergambar dalam jiwa tiap orang itu kemudian orang membuat patungnya yang serupa sekali dengan wajahnya yang sebenarnya.

Socrates mempunyai kepribadian yang sabar, rendah hati, yang selalu menyatakan dirinya bodoh. Badannya tidak gagah sebagi biasanya sebagai penduduk Athena. Meskipun dia orang yang berilmu, tapi dia dalam memilih orang yang jadi istri bukan dari golongan orang baik-baik dan pandai.

Sifat-sifat Socrates selalu memikirkan segala tindakan dan perkataanya, dimana ia selalu berhati-hati dalam melangkah agar tidak menimbulkan kemurkaan tuhan dan suara tuhan yang telah biasa didengarnya. Ahli sejarah Xenophon mencatat tentang dirinya:’Tidak ada seorang pun yang bias mengatakan bahwa ia pernah melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak pantas’.

Pada tahun 399 M, usia 37 tahun ia diadili di pengadilan Athena dengan tuduhan dia telah meracuni pikiran-pikiran kaum muda dengan ajaran-ajarannya serta ketidak percayaannya pada ketuhanan, oleh para penuntutnya : Meletos, Anytos, dan Lycon. Plato dan para sahabat Socrates lainnya juga hadir di persidangan itu. Dalam pengadilan ia menyampaikan sebuah pidato pembelaan, Plato mencatatnya saat siding berlangsung dan mengabadikannya sebagai sebuah tulisan berjudul Apologia. Pidato tersebut berisi bukti-bukti dan alasan bahwa apa yang dituduhkan padanya sama sekali tidak benar. Socrates meinggal meminum racun atas pilihannya sendiri.

B.     JALAN PEMIKIRAN SOCRATES

Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori – teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagaian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya kita peroleh dari tulian murid – muridnya terutama Plato.

Bartens menjelaskan ajaran Socrates sebagai berikut ini. Ajaran itu dutujukan untuk menentang ajaran relativisme sofis. Ia ingin menegakkan sains dan agama. Kalau dipandang sepintas lalu, Socrates tidaklah banyak berbeda dengan orang – orang sofis. Sama dengan orang sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari – hari. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat penting antara orang sofis dan Socrates. Socrates tidak menyetujui kaum sofis.

Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan – percakapan. Ia menganalisis pendapat – pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan tidak salah, misalnya ia bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedagang, dsb. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut dll. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban – jawaban lebih lanjut dan menarik kensekuensi – konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban – jawaban tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaban – jawaban lain, dan begitulah seterusnya. Sering terjadi percakapan itu berakhir dengan aporia ( kebingungan ). Akan tetapi, tidak jarang dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. Metode yang biasa digunakan Socrates biasanya disebut dialektika yang berarti bercakap – cakap atau berdialog. Metode Socrates dinamakan diaelektika karena dialog mempunyai peranan penting didalamnya.Bagi Socrates pada waktu itu penemuan definisi bukanlah hal yang kecil maknanya, penemuan inilah yang akan dihantamkannya kepada relatifisme kaum sofis.

Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang sofis bahwa pengatahuan yang umum ada, yaitu definisi itu. Jadi, orang sofis tidak seluruhnya benar, yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenaranya relatif. Misalnya contoh ini :

Apakah kursi itu ? kita periksa seluruh, kalau bisa seluruh kursi yang ada didunia ini. Kita menemukan kursi hakim ada tempat duduk dan sandaran, kakinya empat, dari bahan jati. Lihat kursi malas, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya dua, dari besi anti karat begitulah seterusnya. Jadi kita ambil kesimpulan bahwa setiap kursi itu selalu ada tempat duduk dan sandaran. Kedua ciri ini terdapat pada semua kursi. Sedangkan cirri yang lain tidak dimilki semua kursi. Maka, semua orang akan sepakat bahwa kursi adalah tempat duduk yang bersandaran. Berarti ini merupakan kebenaran obyektif – umum, tidak subyektif – relative. Tentang jumlah kaki, bahan, dsb. Merupakan kebenaran yang relatif. Jadi, memang ada pengetahuan yang umum, itulah definisi.

Dengan mengajukan definisi itu Socrates telah dapat “ menghentikan ” laju dominasi relatifisme kaum sofis. Jadi, kita bukan hidup tanpa pegangan, kebenaran sains dan agama dapat dipegang bersama sebagainya, diperselisihkan sebagainya. Dan orang Athena mulai kembali memegang kaidah sains dan kaidah agama mereka.

Socrates mengatakan kebenaran umum itu memang ada. Ia bukan dicari dengan induksi seperti pada Socrates, melainkan telah ada “ disana ” dialam idea. Kubu Socrates semakin kuat, orang sofis sudah semakin kehabisan pengikut. Ajaran behwa kebenaran itu relatif semakin ditinggalkan, semakin tidak laku, orang sofis kalap, lalu menuduh Socrates merusak mental pemuda dan menolak Tuhan – Tuhan. Socrates diadili oleh hakim Athena. Ia dijatuhi hukuman mati. Seandainya Socrates memilih hukuman dibuang keluar kota, tentu hukuman itu diterima oleh hakim tersebut, tetapi Socrates tidak mau meninggalkan kota asalnya. Socrates menawarkan hukuman denda 30 mina ( mata uang Athena waktu itu ). Pilihan itu ditolak oleh para hakim karena dianggap terlalu kecil, terutama Socrates didalam pembelaannya dirasakan menghina hakim – hakimnya. Biasanya hukuman mati dirasakan dalam tenggang waktu 12 jam dari saat diputuskannya hukuman itu akan tetapi, pada waktu itu ada satu perahu layar Athena yang keramat sedang melakukan perjalanan tahunan kekuil dipulau Delos, dan menurut hukum Athena hukuman mati baru boleh dijalankan bila perahu itu sudah kembali oleh karena itu, satu bulan lamanya Socrates tinggal didalam penjara sambil bercakap – cakap dengan para sahabatnya. Salah seorang diantara mereka yaitu Kriton, mengusulkan supaya Socrates melarikan diri, tetapi Socrates menolak. Dan pada waktu senja dengan tenang Socrates meminum racun, dikelilingi oleh para sahabatnya. Sekalipun Socrates mati, ajarannya tersebar justru dengan cepat karena kematiannya itu. Orang mulai mempercayai adanya kebenaran umum.

Konsepnya tentang roh, terkenal tidak tentu ( indeterminate ) dan berpandangan terbuka ( openminded ), jelas – jelas tidak agamis dan terlihat tidak mengandalkan doktrin – doktrin metafisik atau teologis. Juga tidak melibatkan komitmen – komitmen naturalistik atau fisik apapun, seperti pandangan tradisional bahwa roh adalah “ nafas ” yang menghidupkan. Sebenarnya juga tidak jelas bahwa ia sedang mencari kesepakatan bagi pendapatnya bahwa telah mengetahui dirinya sendiri. Sebab itu haruslah dia mengenal dirinya lebih dulu. Maka dijadikanlah diri manusia oleh Socrates jadi sasaran filsafat, dengan mempelajari substan dan sifat – sifat diri itu. Dengan demikian menurut Socrates filsafat hendaklah berdasarkan kemanusiaan, atau dengan lain perkataan, hendaklah berdasarkan akhlak dan budi pekerti.

Ia menentang konsep bangsa Yunani tentang jiwa atau psyche. Kepercayaan kuno mengatakan bahwa roh atau jiwa adalah cerminan dari orang yang mati yang bergerak dari dunia kehidupan dan kematian. Socrates menyatakan bahwa ruh adalah suatu yang berbeda dengan jasad. Ia mengemukakan kalau ruh itu mempunyai kecendrungan alamiah kepada kebaikan, suatu konsep yang kemudian ditentang oleh aristoteles (Freeman, h 281).

Soctares juga mempunyai pandangan pribadi tentang tuhan yang mengajak kita untuk berfikir bahwa ia adalah seorang penerima ru’ya atau wahyu, apalagi jika dikaitkan dengan dampaknya yang terasa pada masyarakat Athena.

Ia berhasil mempertahankan keyakinannya pada wujud Maha Kuasa dan Maha Pencipta alam semsta terhadap pandangan poytheisme di sekitarnya dengan menggunakan akidah-akidah hokum alam. Ia menentang pluralitas yang berkembang dalam agama bangsa Yunani sebagaimana yang tercermin dalam mithologi mereka. Ia menganjurkan bangsa Athena agar berdoa bagi kebajikan bukan bagi material.

Menurut filsafat Socrates segala sesuatu kejadian yang terjadi di alam adalah karena adanya “ akal yang mengatur ” yang tidak lalai dan tidak tidur. Akal yang mengatur itu adalah Tuhan yang pemurah. Dia bukan benda, hanya wujud yang rohani semata – mata. Pendapat Socrates tentang Tuhan lebih dekat kepada akidah tauhid. Dia menasehatkan supaya orang menjaga perintah – perintah agama, jangan menyembah berhala dan mempersekutukan Tuhan.

Tujuan filosofis Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Di sini berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan bahwa semuanya relative dan subyektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Socrates berpendapat, bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari.

Dalam mencari kebenaran itu, ia tidak mencari sendiri, melainkan setiap kali berdua dengan orang lain, dengan jalan Tanya jawab. Orang ke dua itu tidak dipandangnya sebagai lawannya, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan berdialog itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang itu. Sebab itu metodenya disebut Maieutik, menguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai dukun beranak.

C.     PENGARUH PEMIKIRAN SOCRATES PADA DUNIA BARAT

Sumbangsih Socrates yang terpenting bagi pemikiran Barat adalah metode penyelidikannya, yang dikenal sebagai metode elenchos, yang banyak diterapkan untuk menguji konsep moral yang pokok. Karena itu, Socrates dikenal sebagai bapak dan sumber etika atau filsafat moral, dan juga filsafat secara umum.

                                                                 BAB III

PENUTUP

 

A.     KESIMPULAN

Socrates hidup kira-kira pada tahun 470-399 SM. Ia orang yang taat beragama, meyakini dasar - dasar pengetahua, menurut sejara. Ia berpendapat bahwa yang benar secara objektif itu ada, itu dapat di pegang. Kebenaran yang relative memang ada juga. Ia berusaha mengajak pemuda-pemuda Athena untuk mempercayai adanya kebenaran obyektif, yang dapat dipegang. Ia pun mengajak pemuda-pemuda itu kembali mempercayai agama mereka dengan menggunakan metode dialetika, dengan bercakap-cakap ke sana ke mari dan berhasil membuktikan adanya kebenaran yang obyektif.

Definisi atau pengertian umum merupakan penemuan Socrates yang terpenting. Metode induksi mulai digunakannya, yaitu dalam rangka mencari esensi-esensi tersebut, yang relative memang ada, yaitu kebenaran-kebenaran pada cirri-ciri aksidensi. Ringkasnya, ia berhasil menginsafkan pemuda Athena bahwa ada kebenaran yang umum dan dapat dipegang, dan agama pun mesti dianut kembali. Akan tetapi, hasil ini harus ditebusnya dengan hukuman mati dengan meminum racun, berdasarkan keputusan pengadilan Athena.

 

B.     SARAN

Pembahasan Socrates dalam makalah yang kami susun memang terbatas. Oleh karena itu, pembaca hendaknya mecari referensi yang lain untuk melengkapi informasi tentang Riwayat dan Jalan fikiran Socrates. Dan kami pun senantiasa menunggu saran dari para pembaca, yang tujuannya tiada lain untuk perbaikan penyusunan makalah selanjutnya yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Jahja, Muchtar.1962. Pokok-pokok Filsafat Yunani, Jakarta:Widjaya

Solomon, Robert C.1996. Sejarah Filsafat, New York: Yayasan Bentang Budaya

Tafsir, Ahmad.2003. Filsafat Umum, Bandung: PT Remaja Rosda Jaya

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/yunani.html

http://khairuddinhsb.wordpress.com/2009/07/19/perkembangan-awal-pemikiran-yunani-pada-masa-socrates/

http://avalansia.blog.friendster.com/2008/03/socrates-apologia/

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Top Web Hosting | manhattan lasik | websites for accountants