Selasa, 12 Januari 2010

LIBURAN AKHIR TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DI TEMPAT WISATA "LIDO"

Madrasah Diniyah Nurul Iman liburan di Lido Sukabumi dalam rangka perpisahan anak-anak didik angkatan 2009/2010. Yang hadir :

1. Peserta didik kelas VI;
2. Dewan Guru Madrasah Diniyah Nurul Iman Pasirbadak, Kebonmanggu, Gunungguruh,
Sukabumi, antara lain : M. Dedi Wahyudi (Kepala Sekolah), Eti Rohayati (Tata
Usaha), Yudi (Wali Kelas V), Jalaludin Armi (Wali Kelas VI), Nina Siti Nasibah
(Wali Kelas III), Asep Rochmat P (komite Sekolah)




Jumat, 08 Januari 2010

LIBURAN DI PELABUHAN RATU




Hari itu, jum’at. 1 Januari 2010. aku dan Wawan Ruswana pergi ke Simpenan Pelabuhan ratu di rumah kakak perempuanku. Kami berangkat sekitar pukul setengah dua siang menggunakan kendaraan umum. Kami ke Simpenan dalam rangka mengisi hari libur sekolah dan tahun baru. Sewaktu dalam perjalanan aku merasa mual, itu mungkin dikarenakan sebelum berangkat tidak makan dulu, jadinya y, masuk angina. Sialnya saya tidak membawa obat mual dan masuk angina sehingga aku berusaha menahan rasa mual itu sampai di tempat tujuan. Untuk mensiasti rasa mual itu, aku berbincang-bincang dengan Wawan sambil mendengarkan lagu Iwan Fals kesukaanku, dan ternyata siasat itu manjur juga.

Alhamdulillah sekitar pukul 15.00 kami sampai di rumah kakakku, tak lama kemudian kami disuguhi minuman jeruk yang dingin, segarnya badanku saat air es jeruk mengalir dalam mulut dan tenggorokanku. Setelah itu, kami ditawari makan; tak banyak bicara kami pun pergi ke dapur untuk makan, dan kami makan dengan rakusnya, maklum saja kami belum makan siang. Waktu ashar tiba, kami langsung melaksanakan kewajiban, yaitu shalat ashar.

Aku berbincang-bincang dengan kakak tentang masalah dalam keluarga; dari keluargaku sampai keluarga kakakku. Tak terasa waktu magrib pun tiba, aku dan Wawan bersiap-siap shalat magrib. Selesai shalat, aku bercanda dengan keponakan; Desra, Sera dan Bella sampai pukul 20.00 WIB. Bahagianya hati ini saat bercengkrama dengan mereka; kebahagiaan yang tak ternilai dengan sesuatu apapun.

Pukul 22.00 kami dan keluarga teteh tidur karena esoknya kami akan pergi ke pantai dengan sahabat karibku. Pukul 05.00 kami bangun; shalat subuh, beres-beres rmah, ngopi dan ngerokok sambil mengobrol. Pukul 09.00 kami berdua pergi ke Dermaga, karena Asep dan Yudi menunggu kami di sana. Kami berangkat ke pantai SBH menggunakan 1 motor dengan dinaiki oleh 3 orang, sedangkan Yudi sudah duluan sampai di lokasi. Sial tenan, kami ditilang polisi. Mau tak mau kami harus berhadapan dengannya. Kejadian yang selalu dikhawatirkan kami dalam perjalanan. Kami pun negosiasi dengan polisi itu dengan hasil akhir harus membayar sebesar 20 ribu rupiah.

Setelah itu, kami langsung bertolak ke pantai SBH. Sewaktu memandang laut yang subhanalloh indah kami pun tak banyak bicara langsung mengganti pakaian dengan pakaian renang. Hilanglah beban yang selama ini menghuni pikiranku. Tertawa dan tertawa yang keluar dari mulut kami. Kurang lebih 2 jam kami berenang; capek bercampur bahagia kami rasakan. Pukul 13.00 kami pulang, tapi tidak langsung ke rumah masing-masing. Kami pulang ke Simpenan, rumah tetehku. Di sana kami beristirahat sejenak sambil menyiapkan ikan layur untuk dibawa ke rumah. Pukul 16.00 setelah shalat ashar kami pun pulang; Asep dan Yudi menggunakan motor, sedangkan aku dan Wawan menggunakan kendaraan umum, Bus MGI AC.


Sabtu, 26 Desember 2009

IKHWAN AL SHAFA (Sejarah dan Pemikirannya)

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kajian filsafat pendidikan Islam, ada beberapa tokoh muslim yang sangat berjasa dalam pengembangan/pembaharuan pemikiran pendidikan Islam, khususnya dari para filosof Muslim, seperti al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Khaldun, Ikhwan al-Shafa, dan lain sebagainya. Ikhwan al-Shafa adalah salah satu organisasi yang didirikan oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari para filosof. Sebagai perkumpulan atau organisasi yang bersifat rahasia, Ikhwan al-Shafa menfokuskan perhatiannya pada bidang dakwah dan pendidikan. Organisasi ini juga mengajarkan tentang dasar-dasar Islam yang didasarkan oleh persaudaraan Islamiyah (ukhuwah Islamiyah), yaitu sikap yang memandang iman seseorang muslim tidak akan sempurna kecuali ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Hal ini berdasarkan sebuah hadis: (لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَى يُحِبَّ أَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ).
Ikhwan al-Shafa muncul setelah wafatnya al-Farabi. Kelompok ini telah berhasil menghimpun pemikirannya dalam sebuah ensiklopedi tentang ilmu pengetahuan dan filsafat yang dikenal dengan “Rasail Ikhwan al-Shafa”. Identitas pemuka mereka tidak terang karena mereka bersama anggota mereka memang merahasiakan diri. Sebagai kelompok rahasia, Ikhwan al-Shafa dalam merekut anggota baru dilakukan lewat hubungan perorangan dan dilakukan oleh orang-orang yang terpercaya.
Dalam makalah ini akan sedikit menyibak tirai rahasia yang disimpan Ikhwan al-Shafa sebagai salah satu organisasi militan yang lebih suka merahasiakan dirinya. Melalui karya monumental, Rasail Ikhwan al-Shafa, kita mencoba mencari jejak-jejak pemikiran Ikhwan al-Shafa yang tertinggal untuk dicari hikmah dan pelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Ikhwan al-Shafa dan Risalahnya
Dalam Wikipedia disebutkan, Ikhwan as-Shafa (اخوان الصفا) berarti (Persaudaraan Kemurnian) adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari para filsuf Arab Muslim, yang berpusat di Basrah, Irak-yang saat itu merupakan ibukota Kekhalifahan Abassiyah-di sekitar abad ke-10 Masehi. Kelompok yang lahir di Bashrah kira-kira tahun 373H/983M ini, terkenal dengan Risalahnya, yang memuat doktrin-doktrin spiritual dan sistem filsafat mereka. Nama lengkap kelompok ini adalah Ikhwan al-Shafa wa Khullan al-Wafa wa Ahl al-Hamd wa Abna’ al-Majd. Sebuah nama yang diusulkan untuk mereka sandang sebagaimana termaktub dalam bab ”Merpati Berkalung” dan Kalilah wa Dimnah, sebuah buku yang sangat mereka hormati. Ikhwan al-Shafa berhasil merahasiakan nama mereka secara seksama. Namun Abu Hayyan al-Tauhidi menyebutkan, sekitar tahun 373H/983M lima orang dari kelompok Ikhwan al-Shafa seperti, Abu Sulaiman Muhammad bin Ma’syar al-Busti, yang dikenal dengan al-Muqaddisi, Abu al-Hasan Ali bin Harun al-Zanjani, Abu Ahmad Muhammad al-Mihrajani, al-Aufi, dan Zaid bin Rifa’ah yang terkenal itu.
Karya monumental Ikhwan al-Shafa adalah ensiklopedia Rasail Ikhwan al-Shafa. Rasail Ikhwan Ash-Shofa wa Khilan al-Wafa didirikan pada abad ke 4 H yang dikarang oleh 10 orang yang mengaku dirinya sebagai pakar tapi mereka merahasiakan identitasnya. Ensiklopedi ini secara garis besar, dapat dibagi menjadi empat kelompok:
Kelompok pertama, berisi empat belas risalah ”matematis” tentang angka. Oleh kalangan Ikhwan al-Shafa, angka dianggap alat penting untuk mengkaji filsafat ”sebab ilmu angka akar semua sains, saripati kebijaksanaan, sumber kognisi, dan unsur pembentuk makna.
Kelompok kedua, terdiri atas tujuh belas risalah yang membahas ”persoalan fisik-materiil”. Secara kasar, semua risalah tersebut berkaitan dengan karya-karya fisika Aristoteles.
Kelompok ketiga, terdiri atas sepuluh risalah ”psikologis-rasional” yang membahas prinsip-prinsip intelektual, intelek itu sendiri, hal-hal kawruhan (intelligibles), hakikat cinta erotik (’isyq), hari kebangkitan, dan sebagainya.
Kelompok keempat, terdiri atas empat belas risalah yang membahas cara mengenal Tuhan, akidah dan pandangan hidup Ikhwan al-Shafa, sifat hukum Ilahi, kenabian, tindakan-tindakan makhluk halus, jin dan malaikat, rezim politik, dan terakhir hakikat teluh, azimat, dan aji-aji.
Dari isi ensiklopedi tersebut kita dapat menafsirkan bahwa Ikhwan al-Shafa mencoba melakukan penjelasan-penjelasan yang terkait dengan agama dan ilmu pengetahuan (filsafat dan sains).

B. Pemikiran Ikhwan al-Shafa terhadap Pendidikan, Agama, dan Filsafat.
1. Klasifikasi Ilmu
Ikhwan al-Shafa membagi cabang pengetahuan menjadi tiga kelas utama, yaitu: matematika, fisika, dan metafisika. Dalam Rasa’il matematika meliputi: teori tentang bilangan, geometri, astronomi, geografi, musik, seni teoritis dan praktis, etika, dan logika. Fisika meliputi: materi, bentuk, gerak, waktu, ruang, langit, generasi, kehancuran, mineral, esensi alam, tumbuhan, hewan, tubuh manusia, indera, kehidupan dan kematian, mikrikosmos, suka, duka, dan bahasa. Metafisika dibagi menjadi psiko-rasionalisme dan teologi. Psiko-rasionalisme meliputi fisika, rasionalistika, wujud, mikrokosmos, jiwa, tahun-tahun raya, cinta, kebangkitan kembali dan kausalitas. Teologi meliputi keyakinan atau akidah Ikhwan al-Shafa, persahabatan, keimanan, hukum Allah, kenabian, dakwah, ruhani, tatanegara, struktur alam, dan magis.
2. Konsep Pendidikan Ikhwan al-Shafa
a. Cara Mendapatkan Ilmu
Menurut Ikhwan al-Shafa, pengetahuan umum dapat diperoleh dengan tiga cara, yaitu:
1) Dengan pancaindera. Pancaindera hanya dapat memperoleh pengetahuan tentang perubahan-perubahan yang mudah ditangkap oleh indera, dan yang kita ketahui hanyalah perubahan-perubahan ruang dan waktu.
2) Dengan akal prima atau berpikir murni. Akal murni juga harus dibantu oleh indera.
3) Melalui inisiasi. Cara ini berkaitan erat dengan doktrin esoteris Ikhwan al-Shafa. Dengan cara ini seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan secara langsung dari guru, yakni guru dalam pengertian seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Guru mendapatkan ilmunya dari Imam (pemimpin agama) dan Imam dari Imam lain, dan para Imam mendapatnya dari Nabi, dan Nabi dari Allah, sumber ilmu paling akhir.
Dalam hal anak didik, Ikhwan al-Shafa memandang bahwa perumpamaan orang yang belum dididik ilmu akidah ibarat kertas yang masih putih bersih, belum ternoda apapun juga. Apabila kertas ini ditulis sesuatu, maka kertas tersebut telah memiliki bekas yang tidak mudah dihilangkan. Aliran ini menilai bahwa awal pengetahuan terjadi karena pancaindera berinteraksi dengan alam nyata. Sebelum berinteraksi dengan alam nyata itu di dalam akal tidak terdapat pengetahuan apapun.
Ikhwan al-Shafa berpendapat bahwa ketika lahir, jiwa manusia tidak memiliki pengetahuan sedikitpun. Proses memperoleh pengetahuan digambarkan Ikhwan secara dramatis dilakukan melalui pelimpahan (al-faidh). Proses pelimpahan tersebut bermula dari jiwa universal (al-nafs al-kulliyah) kepada jiwa manusia, setelah terlebih dahulu melalui proses emanasi. Pada mulanya, jiwa manusia kosong. Setelah indera berfungsi, secara berproses manusia mulai menerima rangsangan dari alam sekitarnya. Semua rangsangan inderawi ini melimpah ke dalam jiwa. Proses ini pertama kali memasuki daya pikir (al-quwwah al-mufakkirat), kemudian diolah untuk selanjutnya disimpan ke dalam re-koleksi atau daya simpan (al-quwwah al-hafizhat) sehingga akhirnya sampai pada daya penuturan (al-quwwah al-nathiqat) untuk kemudian siap direproduksi.
Ikhwan al-Shafa juga berpendapat bahwa semua ilmu harus diusahakan (muktasabah), bukan pemberian tanpa usaha. Ilmu yang demikian didapat dengan panca indera. Ikhwan al-Shafa menolak pendapat yang mengatakan bahwa pengetahuan adalah markuzah (harta tersembunyi) sebagaimana pendapat Plato yang beraliran idealisme. Plato memandang bahwa manusia memiliki potensi, dengan potensi ini ia belajar, yang dengannya apa yang terdapat dalam akal itu keluar menjadi pengetahuan. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia hidup bersama alam ide (Tuhan) yang dapat mengetahui segala sesuatu yang ada. Ketika jiwa itu menyatu dengan jasad, maka jiwa itu terpenjara, dan tertutuplah pengetahuan, dan ia tidak mengetahui segala sesuatu ketika ia berada di alam ide, sebelum bertemu dengan jasad. Karena itu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan seseorang harus berhubungan dengan alam ide.
Dalam mempelajari ilmu pengetahuan, Ikhwan al-Shafa mencoba meng-integrasikan antara ilmu agama dan umum. Mereka mengatakan bahwa kebutuhan jiwa manusia terhadap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterbatasan pada ilmu agama (naqliyah) semata. Manusia juga memerlukan ilmu umum (aqliyah). Dalam hal ini, ilmu agama tidak bisa berdiri sendiri melainkan perlu bekerja sama dengan ilmu-ilmu aqliyah, terutama ilmu-ilmu kealaman dan filsafat. Dalam hal ini Ikhwan al-Shafa mengklasifikasikan ilmu pengetahuan aqliyah kepada 3 (tiga) kategori, yaitu; matematika, fisika, dan metafisika. Ketiga klasifikasi tersebut berada pada kedudukan yang sama, yaitu sama-sama bertujuan menghantarkan peserta didik mencapai kebahagian dunia dan akhirat. Menurut Ikhwan al-Shafa, ketiga jenis pengetahuan tersebut dapat diperoleh melalui pancaindera, akal, dan inisiasi. Meskipun ia lebih menekankan pada kekuatan akal dalam proses pencarian ilmu, akan tetapi menurutnya pancaindera dan akal memiliki keterbatasan dan tidak mungkin sampai pada esensi Tuhan. Oleh karena ini diperlukan pendekatan inisiasi, yaitu bimbingan atau otoritas ajaran agama.
b. Sosok Ideal Guru
Bagi Ikhwan, sosok guru dikenal dengan ashhab alnamus. Mereka itu adalah mu’allim, ustadz dan mu’addib. Guru ashhab alnamus adalah malaikat, dan guru malaikat adalah jiwa yang universal, dan guru jiwa universal adalah akal aktual; dan akhirnya Allah-lah sebagai guru dari segala sesuatu.
Guru, ustadz, atau mu’addib dalam hal ini berada pada posisi ketiga. Urutan ini selanjutnya digambarkan sebagai berikut:
1). Al-Abrar dan al-Ruhama, yaitu orang yang memiliki syarat kebersihan dalam penampilan batinnya dan berada pada usia kira-kira 25 tahun.
2). Al-Ru’asa dan al-Malik, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan yang usianya kira-kira 30 tahun, dan disyaratkan memelihara persaudaraan dan bersikap dermawan.
3). Muluk dan Sulthan, yaitu mereka yang memiliki kekuasaan dan telah berusia 40 tahun.
4). Tingkatan yang mengajak manusia untuk sampai pada tingkatannya masing-masing, yaitu berserah dan menerima pembiasaan, menyaksikan kebenaran yang nyata, kekuatan ini terjadi setelah berusia 50 tahun.
3. Pandangan Ikhwan al-Shafa Tentang Agama
Ikhwan al-Shafa adalah Muslim. Namun mereka memiliki interpretasi tersendiri mengenai agama pada umumnya dan tentang Islam pada khususnya. Corak Syi’ah yang amat tampak dalam kegiatan misioner memang dramatis sebab ini sangat membantu mereka menyentuh emosi massa. Secara historis, sebetulnya Ikhwan al-Shafa tidak termasuk ke dalam sekte manapun. Sebetulnya mereka hanya berupaya dengan dibantu Islam dan filsafat Yunani, untuk menanamkan doktrin spiritual yang dapat menggantikan agama-agama historis dan yang, pada waktu yang sama, dapat diterima oleh semua orang serta tidak menyinggung perasaan siapa pun.
Ikhwan al-Shafa memandang agama sebagai sebuah din, yaitu kebiasaan atau kepatuhan kepada seorang pemimpin yang telah diakui. Agama sangat diperlukan sebagai sanksi sosial dalam mengatur massa, dalam mensucikan jiwa, dan dikarenakan semua manusia sebelum lahirnya pun sudah bertabiat untuk beragama dan berbuat kebajikan. Dalam pengertian ini agama adalah satu untuk semua orang dan segala bangsa.
Hukum (Arab: Syari’ah atau namus, dari kata Yunani: nomos, hukum) oleh Ikhwan al-Shafa adalah apa yang kita maksud dengan agama sekarang (dalam istilah kita agama sama dengan hukum dalam istilah Ikhwan). Hukum-hukum itu beraneka ragam disesuaikan dengan beragamnya komunitas, kelompok, dan individu). Hukum ini diajarkan oleh orang-orang bijak yang ada di setiap bangsa demi kemaslahatan bangsa-bangsa yang bersangkutan. Atas dasar ini, Ikhwan al-Shafa menyatakan bahwa segala tema metafisika di dalam kitab-kitab suci misalnya mengenai penciptaan, mengenai Adam, Setan, pohon pengetahuan, kebangkitan kembali, Hari Perhitungan, neraka, dan surga harus dianggap sebagai simbol-simbol dan harus dipahami secara alegoris.
Penafsiran Ikhwan al-Shafa terhadap teks Al-Qur’an tersebut lebih bersifat esotoris (secara batin), dalam artian pemaknaan Al-Qur’an dengan simbol-simbol. Karena sifat penafsiran Ikhwan al-Shafa yang esotoris ini, mereka dianggap sebagai kelompok aliran kebatinan. Sebagaimana ditulis dalam www.samuderailmufortuna.blogspot.com :
Rasail adalah upaya pembentukan sistem agama baru yang menggeser posisi syariat Islam yang telah menjadi "barang antik". Usaha ini gagal dan menuai banyak kritikan dari ulama-ulama umat yang menjelaskan kesesatan dan kekeliruan mazhab ini. Secara implisit, Rasail mengandung keyakinan-keyakinan filosofis para kaum Bathiniyyah, para filosof, dan kaum Nasionalis, diantaranya:
a. Pengingkaran kebangkitan manusia dengan jasad-jasadnya di akhirat.
b. Perbedaan interpretasi surga dan neraka dari pendapat umum yang mutawatir.
c. Bantahan implikasi setan seperti yang dipahami umat Islam, menurut mereka setan itu konotasi makhluk-makhluk jahat yang menerawang di orbit bulan dan kawan-kawannya berupa makhluk-makhluk yang tidak diketahui bentuknya di kehidupan dunia.
d. Interpretasi makna kafir dan azab secara maknawi.
e. Keyakinan bahwa derajat kenabian bisa dicapai dengan latihan dan kesucian hati.
f. Statemen berbunyi siapa yang telah mencapai alam batin maka berarti dia sudah terbebas dari praktek ibadah/syariat.
g. Kecondongan pada keyakinan Syi'ah seperti kemaksuman Imam, taqiyah (berbohong demi kebenaran), mendirikan negara dari ahli bait (keturunan Nabi).
h. Seruan terhadap pluralisme agama serta pelarangan fanatisme terhadap agama tertentu. Pendapat seperti ini banyak diilhami dari utopia peninggalan-peninggalan para dukun dan orang-orang Yunani. Sekelompok analisis dan orientalis lain lebih condong berpendapat bahwa Rasail ini diadopsi dari Ismailiyyah Bathiniyyah.

Dari pendapat-pendapat di atas, semakin nampak bahwa penafsiran agama yang dilakukan oleh Ikhwan lebih menekankan pada makna esotoris/batiniyah daripada lahiriyah. Penafsiran esotoris ini lebih banyak dipengaruhi oleh paham Syiah.
4. Pandangan Ikhwan al-Shafa tentang Filsafat
Bagi golongan Ikhwan al-Shafa, filsafat itu bertingkat-tingkat. Pertama-tama cinta kepada ilmu; kemudian mengetahui hakikat wujud-wujud menurut kesanggupan manusia, dan yang terakhir ialah berkata dan berbuat sesuai dengan ilmu.
Filsafat, kebijaksanaan atau kebijakan filosofis, menurut Ikhwan, adalah berperilaku seperti Tuhan (Godlike) sedapat mungkin. Definisi filsafat secara lebih terincinya, ”cinta kepada ilmu pengetahuan disamping pengetahuan mengenai esensi segala wujud, yang diperoleh sedapat mungkin, ditambah dengan keyakinan dan berperilaku yang selaras dengan keyakinan itu.
Dalam memandang antara filsafat dan agama, Ikhwan al-Shafa yakin bahwa tak ada pertentangan serius antara filsafat dan agama. Sebab, sama-sama bertujuan ”meniru Tuhan sesuai dengan kemampuan manusia”. Peniruan ini, menurut Ikhwan al-Shafa, bisa dicapai lewat pengetahuan teoritis atau amal kebajikan yang menyucikan individu bersangkutan. Perbedaan antara filsafat dan agama berada hanya pada tataran yang subsider, yakni bersangkutan bahasa khusus yang dipakai oleh keduannya.
Bagi Ikhwan al-Shafa, nilai utama filsafat terletak pada upayanya mengungkapkan pengertian tersembunyi (batin) dari wahyu. Filsafat juga mengajarkan agar manusia tidak berhenti pada makna eksternal (zhahir) wahyu secara vulgar dan profligate. Bahkan, filsafat mengajarkan bahwa ”hakikat kekufuran (kufr), kekeliruan, kebodohan, dan kebutaan” ialah bersikap puas terhadap tafsiran-tafsiran eksternal yang bertumpu pada kesenagan-kesenangan ragawi dan imbalan-imbalan kasatmata. Bagi seorang bijak bestari, semua tafsiran itu justru mengisyaratkan kebenaran-kebenaran spiritual. Dengan demikian, neraka adalah alam fana yang terletak di bawah bulan, sedangkan surga adalah ”tempat menetapnya jiwa dan alam raya”.

BAB III
KOMENTAR PENULIS
Ikhwan al shafa adalah organisasi rahasia yang aneh dan misterius yang terdiri dari filsuf arab muslim. Pemikiran organisasi ini memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan. Dengan memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan akan dirasa berkualitas dari segi akal dan spiritual. Akan tetapi, organisasi ini lebih ke batiniyah. Masa sekarang, orang memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan. Mereka beranggapan bahwa agama tidak ada hubungan sama sekali dengan ilmu pengetahuan sehingga banyak orang yang otaknya pintar, namun moralnya hancur. Dengan sistem ikhwan al shafa ini diharapkan ada keseimbangan antara akal dan spiritual. Di kabupaten sukabumi telah diterapkan 10 akhlaqulkarimah pada lembaga pendidikan; salah satunya adalah dengan membaca ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan materi yang akan disampaikan. Ini dimaksudkan agar peserta didik mengetahui bahwa Al-Qur’an itu adalah sumber dari berbagai ilmu dan untuk menanamkan keseimbangan antara akal dan spiritual.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ikhwan al-Shafa merupakan organisasi Islam militan yang telah berhasil menghimpun pemikiran-pemikiran mereka dalam sebuah ensiklopedi, Rasail Ikhwan al-Shafa. Melalui karya ini kita dapat memperoleh jejak-jejak ajaran mereka, baik tentang ilmu pengetahuan, filsafat, dan agama. Terlepas dari sisi positif dan negatif, Ikhwan al-Shafa telah menjadi bagian kajian filsafat pendidikan Islam, Filsafat Islam, bahkan Tafsir Al-Qur’an Esotoris. Inilah yang dapat kita urai, dan masih banyak yang belum terurai. Wallahu A’lam.
B. SARAN
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar penyusunan makalah yang selanjutnya menjadi lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahwani, Ahmad Fuad, Tarbiyah fi al-Islam, (Mesir: Dar al-Ma’arif, tt)
Dahlan, Abdul Aziz, Pemikiran Falsafi dalam Islam (Jakarta: Djambatan 2003)
Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1996)
Farrukh, Omar A. dalam M.M. Syarif (editor), Aliran-Aliran Filsafat Islam, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2004)
Fakhry, Majid, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (terj.) oleh Zaimul Am, (Bandung: Mizan, 2002)
Iman, Muis Sad, Pendidikan Partisipatif, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004)
Langgulung, Hasan, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1985), hal. 215
Nata, Abuddin, Filsafat Pendidikan Islam 1, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997).
Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis, dan Praktis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)
Qadir, C.A, Filsafat Pendidikan Islam, Terj. Hasan Basari, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1991)
www.ikaari.multiply.com
www.telagahikmah.org.
www.telagahikmah.org.
www.mindarakyat2.tripod.com.
www.Samuderailmufortuna.blogspot.com.
www.wikipedia.org.

DFTAR NILAI UAS GASAL MTs. AL-MUJAHID 2009/2010 MATA PELAJARAN TIK

ERIM

MERI

YUAIDAH

SUCI

M. ZAKI

ADE

MEIDIANA

MASRIYANA

ASEP H

DEDE F

DINI

SAEPUL A

LASMINI

RAHMAN

LINSA

74

91

86

82

98

90

92

72

62

80

52

66

65

76

85

Rabu, 16 Desember 2009

FUNGSI MASJID

Masjid dilihat dari sudut bahasa berasal dari bahasa arab yang artinya tempat sujud, tempat shalat atau tempat ibadah kepada Allah swt. Karena masjid tempat sujud dan tempat ibadah, maka pembangunan masjid dianjurkan disekitar pemukiman untuk memudahkan orang mendatanginya.

            Dalam perkembangan sejarah Islam fungsi masjid tidak hanya sebatas sebagai tempat shalat atau ibadah semata, melainkan juga sebagai pusat kegiatan umat islam. Hal ini ditunjukan oleh Rasulullah saw ketika beliau mengatur kendali pemerintahan dan semua kegiatan umat dilakukan di masjid.

            Hal yang paling menggembirakan adalah bahwa pembangunan masjid tidak hanya dilakukan di sekitar pemukiman penduduk, tetapi juga di setiap lembaga pendidikan. Sekolah atau lembaga pendidikan yang tidak ada fasilitas masjid termasuk sekolah atau lembaga pendidikan yang mempunyai sarana masih kurang. Oleh karena itu, adanya masjid di lingkungan sekolah atau lembaga pendidikan benar-benar sangat diperlukan untuk pelengkap sarana belajar.

            Maka, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, akan tetapi mempunyai peran dalam pembinaan mental peserta didik, diantaranya : Tempat pembinaan Iman dan Taqwa, Fungsi Sosial Kemasyarakatan, Fungsi Pendidikan, Fungsi Ekonomi. Wajarlah jika masjid dijadikan sentral atau pusat kegiatan umat islam.

 

Rabu, 09 Desember 2009

SAMPAH (TEKNIK PENGEMBANGAN TULISAN)

MASALAH (1)
TEKNIK PENGEMBANGAN (1)
Bila manusia membuang sampah sembarangan, apa jadinya dengan : a) lingkungan, b) kelangsungan hidup
A) LINGKUNGAN
1. Apa akibatnya jika lingkungan tercemar?
Jawab : dapat menimbulkan penyakit
2. Apa akibatna jika manusia sakit?
Jawab : akan menghambat aktivitas sehari-hari
3. Apa akibatnya jika aktivitas sehari-hari terhambat ?
Jawab : tidak akan bias bekerja, menuntut ilmu, dan aktivitas lainnya
4. Apa akibatnya jika tidak dapat bekerja?
Jawab: tidak dapat membuhi kebutuhan hidup sehari-hari
5. Apa akibatnya jika tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari?
Jawab : akan menimbulkan kemiskinan dan kebodohan

B) KELANGSUNGAN HIDUP
1. Apa akibatnya jika kelangsungan hidup manusia terganggu?
Jawab : menyebabkan ketidaknyamanan dalam hidup
2. Apa akibatnya jka hidup sudah tidak nyaman ?
Jawab : akan menyebabkan hidup tidak teratur atau kacau
3. Apa akibatnya jika hidup tidak teratus?
Jawab : akan menimbulkan keruksakan
4. Apa akibat dari keruksakan ?
Jawab : akan menimbulkan bencana
5. Apa akibat dari bencana ?
Jawab : akan menyebabkan kerugian bagi manusia

MASALAH (2)
TEKNIK PENGEMBANGAN (2)
Membuang sampah sembarangan
1. Kenapa manusia membuang sampah sembarangan ?
Jawab : karena tidak disiplin
2. Kenapa tidak disiplin ?
Jawab : karena tidak mempunyai rasa tanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan
3. Kenapa tidak ada rasa tanggung jawab ?
Jawab : karena tidak ditanamkan sejak kecil
4. Kenapa tanggung jawab tidak ditanamkan sejak kecil ?
Jawab : karena menganggap sepele terhadap sampah
5. Kenapa menganggap sepele terhadap masalah sampah ?
Jawab : karena tidak mengetahui akibat yang ditimbulkannya.

Selasa, 08 Desember 2009

MITOS PERKAWINAN

Mitos 1 : perkawinan lebih menguntungkan pria daripada wanita

Kenyataannya : penelitian membuktikan, pria dan wanita memperoleh keuntungan yang sama dari sebuah perkawinan walaupun dari cara yang berbeda. Dengan menikah, baik wanita atau pria merasa panjang umur, lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih kaya.

Mitos 2 : cinta yang romantis dan keberuntungan merupakan kunci suksesnya perkawinan.

Kenyataannya : selain keberuntungan dan cinta, alas an yang paling umum bagi suksesnya sebuah perkawinan adalah komitmen dan persahabatan. Perkawinan merupakan hasil kerja keras, dedikasi, sertakomitmen. Pasangan yang paling berbahagia adalah pasangan yang merupakan sahabat di dalam suka dan duka.

Mitos 3 : pasangan yang hidup bersama sebelum menikah, pernikahannya bakal lebih langgeng daripada pasangan yang menikah tanpa melakukan hidup bersama terlebih dahulu.

Kenyataannya : angka perceraian justru lebih tinggi pada pasangan yang hidup bersama sebelum menikah dibandingkan pada pasangan menikah tetapi tidak hidup bersama sebelum menikah. Hal ini mungkin disebabkan karena mereka sudah terbiasa untuk tidak terikat pada suatu komitmen sehingga pada saat ada masalah, mereka terbiasa untuk melepaskan diri dari permasalahan.

Mitos 4: angka kepuasan seks dan hubungan seks lebih tinggi pada orang yang tidak menikah dibandingkan dengan orang menikah.

Kenyataannya : dibandingkan pasangan yang tidak menikah, pasangan menikah lebih banyak melakukan seks dan menikmatinya. Mereka merasakan kenikmatan seks baik fisik maupun mental.

Mitos 5 : hidup bersama dan menikah tidak jauh berbeda. Bedanya hanya disecarik kertas.

Kenyataanya : dibandingkan dengan menikah, hidup bersama tidak memberi keuntungan. Baik dari segi kesehatan, financial, maupun kebagahagiaan emosi. Pada dasarnya, hidup bersama (tanpa menikah) tidak jauh berbeda dengan hidup lajang karena pasangan yang melakukan hidup bersama cenderung untuk tidak mempunyai komitmen seperti yang dilakukan oleh pasangan yang menikah dan mereka lebih mementingkan kebebasan pribadi daripada memperhatikan kebahagiaan pasangannya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Top Web Hosting | manhattan lasik | websites for accountants